phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

KEMACETAN DI KOTA BANDUNG

KEMACETAN DI KOTA BANDUNG
oleh: Bimo Adriawan

Kemacetan di Pasteur
Kota senantiasa berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Heterogenitas yang merupakan unsur pembangun kota memungkinkan kemajuan itu terjadi. Kota Bandung adalah salah satu kota yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kemajuan suatu kota saat ini dapat diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indikator IPM ada tiga, yaitu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Ketika ketiga aspek IPM tersebut menunjukan kemajuan ternyata ada sesuatu yang statis.


Kota Bandung sebagai ibukota propinsi Jawa Barat mengalami hal itu. Sebagai gambaran, tahun 1999, IPM Kota Bandung mencapai angka 70.7 paling tinggi diantara kota dan kabupaten lain di Jawa Barat. Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Namun, peningkatan indeks tidak serta merta menghapuskan permasalahan yang umum terjadi di kota-kota besar, yaitu kemacetan.

Indeks pembangunan yang tinggi seharusnya seharusnya ditunjang oleh kelancaran lalu lintas untuk mempermudah mobilitas penduduk. Kemacetan tentu saja menghambat mobilitas penduduk. Guna menguraikan permasalahan ini, tentu perlu diketahui faktor apa saja yang menjadi menyebabnya. Lalu, akibat apa yang ditimbulkan kemacetan, dan yang terakhir solusi apa yang telah ditempuh oleh pemerintah.

A. SEBAB DAN AKIBAT KEMACETAN
I. Faktor Kemacetan
Kemacetan adalah akibat. Penting sekali untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi penyebabnya. Berdasarkan penuturan dari Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Prijo Soebiandono terdapat 32 penyebab kemacetan. Diantara kesemuanya itu, penyebab utamanya antara lain:

a. Parkir di badan jalan
Bandung bisa dikatakan kurang memiliki lahan parkir. Berdasarkan buku Bandung Dalam Angka kondisi lahan parkir cenderung bertambah, tetapi tetap tidak mampu mencukupi kebutuhan parkir sehingga badan jalan pun dijadikan sebagai tempat parkir.

Pada tahun 2003 tercatat ada 208 lahan parkir yang tersebar di tujuh wilayah, dengan rincian sebagai berikut

NoWilayahJumlah Lahan Parkir
1Bojonegara42
2Cibeunying Barat22
3Cibeunying Timur72
4Tegallega22
5Karees30
6Ujung Berung/Gede Bage4
7Pasar16
TOTAL208
(sumber:Bandung Dalam Angka 2003)

NoWilayahJumlah Lahan Parkir
1Bojonegara48
2Cibeunying Barat23
3Cibeunying Timur71
4Tegallega31
5Karees31
6Ujung Berung/Gede Bage4
7Pasar14
TOTAL222
(sumber:Bandung Dalam Angka 2005)

Pada buku publikasi, Bandung Dalam Angka 2005 jumlah lahan parkir meningkat. Peningkatan sebesar 7% disebabkan oleh peningkatan jumlah lahan parkir di beberapa wilayah. Di wilayah Bojonegara jumlah lahan parkir bertambah enam lahan, Cibeunying Utara satu lahan, Tegallega bertambah cukup banyak yaitu delapan lahan, Karees satu lahan. Sementara Cibeunying Timur kehilangan satu lahan parkir dan wilayah Pasar berkurang dua lahan parkir. Wilayah Ujung berung/Gede Bage tetap dengan jumlah empat lahan parkir.


Pada tahun 2007, lahan parkir yang tersedia lebih sedikit dari tahun 2005.
NoWilayahJumlah Lahan Parkir
1Bojonegara44
2Cibeunying Barat24
3Cibeunying Timur70
4Tegallega31
5Karees35
6Ujung Berung/Gede Bage1
7Pasar13
TOTAL218
(sumber:Bandung Dalam Angka 2007)

Penurunan terjadi sekitar 2% disebabkan oleh berkurangnya lahan parkir di berbagai wilayah. Bojonegara berkurang empat lahan parkir, Cibeunying Timur satu lahan, Ujung Berung/Gede Bage tiga lahan, dan Pasar satu lahan. Sementara itu wilayah Cibeunying Barat bertambah satu lahan, Karees empat lahan, dan Tegallega tetap.

Kehilangan empat lahan parkir pada 2007 sangat merugikan, karena berakibat pada berkurangnya lebar jalan karena badan jalan dipakai untuk parkir. Alhasil jalan pun tidak bisa digunakan seluruhnya, terjadi penyempitan jalan. Pada tahun 2010, menurut Prijo terdapat sekitar 128 titik badan jalan yang menjadi tempat parkir liar.

Grafik Lahan Parkir 2003-2007


b. Pedagang Kaki Lima
Sektor informal ini lahir seiring dengan perkembangan kota. Datangnya para urbanit yang tidak memiliki kemampuan mendukung pertumbuhan pedagang kaki lima (PKL). PKL tidak memiliki tempat khusus untuk berdagang. Mereka memanfaatkan badan jalan sehingga jalan tidak bisa digunakan sepenuhnya. Kondisi ini juga membuat para pemilik kendaraan turut memarkirkan kendaraan mereka di badan jalan, seperti dijelaskan di atas.

Pedagang Lima

c. Pasar tumpah
Penyempitan Ruas Jalan Akibat Pasar Tumpah
Pasar merupakan sentra bisnis rakyat. Aktivitasnya seakan tiada henti, dari pagi sampai pagi lagi. Harga yang menarik dan pilihan yang banyak, membuat pasar tidak sepi pembeli. Namun, semua itu tidak selalu berdampak positif. Pasar yang banyak diminati dan aktif siang-malam membuat lalu lintas tersendat. Kemacetan hampir dapat ditemui di setiap pasar. Pedagang yang begitu banyak dan tidak terkondisikan membuat seolah-olah pasar tumpah ke jalan, dan memakan sebagian badan jalan. Jalan yang seharusnya bisa dipakai dua lajur, dipaksa hanya satu lajur saja, sisanya milik pedagang.






d. Angkutan Kota
Angkutan kota dituding sebagai biang kemacetan
Angkutan kota ditengarai menjadi biang kemacetan. Alasannya karena angkutan umum selalu menurunkan dan menaikkan penumpang seenaknya dan menunggu penumpang di badan jalan (ngetem). Tindakan tersebut tentu akan mengurangi lebar jalan yang bisa digunakan. Menurut Erwan Setiawan (Ketua DPRD Kota Bandung) pembenahan terhadap kendaraan umum harus dilakukan untuk mengurangi kemacetan di Kota Bandung. Menurutnya Manajemen transportasi umum di Kota Bandung perlu diperbaiki.

Namun, menaikkan dan menurunkan penumpang tidak serta merta kesalahan supir. Kondisi demikian tercipta karena permintaan dari penumpang. Seringkali penumpang menggerutu apabila supir tidak memberhentikan angkotnya karena si supir berusaha menaati rambu lalu lintas. Jadi, mentalitas penumpang juga harus dibangun kembali supaya dapat mengerti dan memahami aturan lalu lintas. 

e. Pembangunan ruas jalan tidak sesuai peningkatan volume kendaraan
Penyebab ini merupakan penyebab yang umum. Hampir semua wilayah perkotaan di Indonesia mengalaminya. Pembangunan dan perbaikan infrastruktur  begitu minim, sedangkan volume kendaraan baru meningkat begitu pesat. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan volume kendaraan tidak sebanding dengan jalan, yang akhirnya menimbulkan kemacetan.

Pada tahun 2003, panjang jalan keseluruhan di Kota Bandung mencapai 1.103.71 km. Panjang jalan tersebut bertambah menjadi 1.221.69 km pada tahun 2005, dan tahun 2007 bertambah lagi menjadi 1.230.230 km.

Jumlah Kendaraan > Luas Jalan
Namun, peningkatan panjang jalan berbanding lurus dengan panjang jalan yang rusak. Pada tahun 2003, panjang jalan yang rusak mencapai 165.00 km, yang artinya hanya sekitar 85% panjang jalan yang kondisinya baik. Tahun 2005 terjadi perbaikan, panjang jalan yang rusak hanya 128.63 km, sekitar 89% jalan dalam kondisi baik. Terjadi peningkatan sebesar 4% dari tahun 2003. Tahun 2007, panjang jalan yang rusak bertambah lagi menjadi 150.44 km, jalan yang ada dalam kondisi baik menurun 1% menjadi 88%.

Jumlah kendaraan dari Kota Bandung cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 jumlah kendaraan mencapai  699.668 kendaraan dari berbagai jenis. Pada tahun 2007, jumlah kendaraan meningkat menjadi 822.538 atau sekitar 18%. Peningkatan volume kendaraan sekitar 18% tidak sebanding dengan peningkatan jalan yang hanya meningkat 1% dari tahun 2005 ke 2007. Kondisi ini jelas berakibat kemacetan di Kota Bandung.

II. Dampak Kemacetan
Polusi Udara
Kemacetan berakibat kepada berbagai aspek. Hal yang paling umum adalah keterlambatan beraktivitas, seperti sekolah atau kerja. Perhitungan matematis akibat kemacetan bagitu besar ruginya. Menurut, Gingin Ginanjar (Kasubbid Infrastruktur dan Prasarana Bappeda Kota Bandung), pada jam sibuk, kendaraan di Kota Bandung hanya mampu bergerak 15.71 km/jam dan itu mengakibatkan uang terbuang di jalan sebesar Rp. 2.46 Triliun serta menyumbangkan 66.34% emisi gas buang transportasi.

Pernyataan Gingin dapat dipahami. Penggunaan bahan bakar menjadi tidak efektif karena digunakan pada kecepatan lambat atau bahkan diam. Kondisi udara di jalan pun tidak segar lagi seperti dahulu. Walaupun menurut Riza Wardana (Ketua Badan Pemerhati Lingkungan Hidup Kota Bandung) kualitas udara masih ada di bawah ambang batas normal. Tetapi dengan kondisi alat ukur kualitas udara yang rata-rata sudah rusak, sudah seharusnya diperhitungkan kembali. 

Stres akibat kemacetan
Bis yang mengeluarkan gas buangan yang hitam pekat dan banyak, tidaklah sedikit, ditambah banyaknya kendaraan lain yang turut menyumbangkan gas buangannya. Pertambahan jumlah pohon pun tidak sebanding dengan pertambahan kendaraan bermotor. Kondisi yang ada justru berbanding terbalik. Jumlah pohon cenderung berkurang sementara kendaraan bermotor cenderung terus bertambah. Akibatnya udara kotor karena jumlah pohon semakin sedikit.

Selain itu, aspek psikologis pengguna jalan juga menjadi terganggu. Kondisi macet ketika akan bepergian tentu membuat jengkel para pengguna jalan. Akibatnya tempramen pengguna jalan cenderung tinggi akibat stress di jalanan. 

B. SOLUSI KEMACETAN DI KOTA BANDUNG

I. Solusi Jangka Pendek
Solusi ini berlaku mengurai kemacetan dengan cepat sampai terwujudnya solusi jangka panjang. Dinas perhubungan yang dalam hal ini terkait langsung memulai pemecahan masalah dengan membenahi badan jalan yang biasa dipakai sebagai lahan parkir. Penertiban juga dilakukan di lahan parkir pusat bisnis, sekolah, dan perkantoran.

Wacana untuk memajukan jam sekolah seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Jakarta juga sempat mengemuka. Terjadi pro dan kontra dalam wacana tersebut. Pengamat Pendidikan dan Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan Kota Bandung, Dan Satriana mengungkapkan bahwa wacana tersebut tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan kemacetan di Kota Bandung. Menurutnya, wacana itu memperlihatkan bahwa tugas pemkot dialihkan kepada anak-anak sekolah, dan ini adalah wacana yang tidak cerdas. 

Gagasannya adalah pemberlakuan sistem rayonisasi. Sistem yang memungkinkan siswa bersekolah di sekolah yang dekat dengan tempat tinggalnya. Dengan begitu diharapkan siswa pulang-pergi lebih mudah dan akan lebih rapi. Klaim bahwa sekolah sebagai faktor penyebab kemacetan bisa dihilangkan. Hal tersebut diperkuat olah pendapat pakar transportasi ITB, Ofyar Z Tamin. Pendapatnya, dengan memajukan jam sekolah malah akan membuat siswa membawa kendaraan sendiri. Artinya akan semakin menambah kemacetan. Gagasannya, perlu pengalihan dari transportasi pribadi ke massal.

Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang tepat dalam waktu yang singkat. Tidak bisa menunggu pembangunan fasilitas transportasi yang sifatnya jangka panjang. Optimalisasi petugas lalu lintas, dan persiapan yang matang seperti pembagian jalan yang tegas perlu dilakukan. Kemacetan terus terjadi tanpa adanya solusi jangka pendek. Jika tidak cepat masyarakat akan resah dan tidak percaya kepada pemerintah.

II. Solusi Jangka Panjang
Pemerintah perlu melakukan terobosan besar dalam menyikapi permasalahan kemacetan ini. Pembenahan dan penambahan infrastruktur perlu dilakukan. Akar permasalahan kemacetan perlu dikaji dan diberi solusi yang tepat. Penyelesaian dengan fokus pada akibat tidaklah relevan lagi, sudah saatnya fokusnya berpindah ke sebab atau akar masalah.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, Dinas Perhubungan Kota Bandung telah melakukan riset bersama Institut Teknologi Bandung dalam rangka memenuhi kebutuhan akan lahan parkir. Diharapkan dengan tersedianya lahan parkir yang memadai, badan jalan bisa bersih dari parkir liar dan jalan dapat digunakan seluruhnya.

Pasar Tradisional Terkonsentrasi di Hong Kong. Bisakah kita?
Pedagang kaki lima juga perlu dirapikan. Pedagang kaki lima (PKL) sebenarnya bisa menjadi aset berharga bagi kota jika dikelola dengan baik. Penggusuran tidak dapat menghilangkan keberadaan PKL, alternatif yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah merelokasi PKL dan menjadikannya sentra usaha rakyat. Sehingga PKL menjadi aset yang turut menyumbangkan pemasukan kepada pemerintah kota.

Pedagang pasar yang tumpah ke jalan merupakan simbol dari meningkatnya aktivitas ekonomi rakyat. Sama halnya dengan PKL, penggusuran tidak bisa menyelesaikan permasalahan. Pembangunan pasar yang nyaman, aman, dan mampu menampung para penjual akan membuat penjual tidak lagi berjualan sampai ke jalan. Hal ini pun merupakan potensi kota yang seharusnya dikelola dengan baik. Kemacetan dapat terhindari, jalan dapat digunakan seluruhnya, dan pasar menjadi rapi dan bermanfaat.


transportasi massal yang nyaman
Aspek yang paling penting adalah mengurangi laju pertumbuhan kendaraan. Sebab meningkatnya volume kendaraan adalah tidak tersedianya transportasi massal yang aman dan nyaman. Perbaikan terhadap transportasi massal wajib untuk dilakukan. Trans Metro Bandung merupakan alternatif yang baik. Damri juga perlu mengoptimalkan armadanya dengan memberikan bis yang baik dan nyaman. Dinas perhubungan juga perlu merapikan angkutan kota (angkot) sehingga tidak lagi ngetem di mana saja yang sudah tentu merugikan pengguna angkot dan pengguna jalan lain.

Fly Over salah satu solusi kemacetan
Jika tidak ada transportasi massal yang representatif maka volume kendaraan akan terus meningkat. Hal itu tidak mampu diimbangi penambahan jalan. Alternatif yang telah diusahakan oleh pemerintah kota adalah dengan membangun jalan laying di beberapa titik, seperti Cimindi, Kiaracondong, dan Pasupati.

Menurut Gingin, Bappeda telah mempersiapkan masterplan transportasi sehingga tercipta sistem transportasi yang aman dan nyaman. Aspek nonfisik juga perlu diperbaharui, seperti manajemen lalu lintas, pelayanan transportasi umum, pendanaan, pengaturan, kelembagaan, dan perilaku pengguna jalan, sebagai pendukung aspek fisik. Jika keduanya mampu berjalan dengan baik maka harapan reformasi transportasi Kota Bandung dapat terwujud.
 
Solusi jangka panjang yang utama adalah perbaikan mentalitas masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat haruslah mengerti dan peka terhadap persoalan-persoalan sosial dan lingkungan di sekitarnya. Tampaknya apatisme masyarakat sudah semakin tinggi. 

Shibuya, Tokyo Jepang. Orang semua?!
Ada seorang guru yang mengeluarkan pernyataan sangat menyentil. Pernyataannya kurang lebih seperti ini "kok rakyat kita begitu gemar membeli motor-motor dan mobil-mobil Jepang, Cina, dll padahal di negara asal si mobil dan si motor itu rakyatnya kebanyakan berjalan kaki, bersepeda, dan berkendaraan umum." Pernyataan tadi menyiratkan makna bahwa selain infrastruktur transportasi, aspek mentalitas masyarakat pun perlu dibangun. Paling tidak pemerintah bisa menstimulusnya dengan berbagai cara.


Jalur Sepeda perlu dirawat dan diperluas
Peningkatan kualitas transpotasi massal bisa menjadi salah satu pemancingnya. Selain itu, kampanye penghematan bbm dan anjuran penggunaan sepeda yang dikeluarkan oleh Kementrian ESDM juga sangat membantu mengubah persepsi masyarakat terhadap transportasi. Pembuatan jalur sepeda dan perawatannya merupakan langkah nyata selain para pejabat juga memberikan contoh dengan bersepeda atau berkendaraan umum dalam aktivitasnya. 

Komunitas pesepeda seperti KosKas Bandung, B2W Bandung, B2W Indonesia harus diapresiasi atas upaya positif mereka. Mungkin tidak ada salahnya pemerintah pun turut serta membuat saluran-saluran aspirasi publik lainnya sebagai suatu masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan terkait transportasi. 


SIMPULAN

Kemacetan di Kota Bandung disebabkan oleh banyak faktor. Dari sekian banyak faktor, terdapat lima faktor utama, yaitu penyempitan jalan akibat dari kurangnya lahan parkir, pedagang kaki lima, pasar tumpah, dan angkutan kota yang menunggu penumpang di sembarang tempat. Faktor utama lainnya adalah volume kendaraan lebih besar dari pada panjang jalan. Akibatnya, aktivitas keseharian masyarakat menjadi terhambat. Kerugian materi akibat penggunaan bahan bakar yang tidak optimal, dan polusi yang merusak kesehatan masyarakat.

Pemerintah Kota Bandung terus berupaya menyelesaikan masalah tersebut. Berbagai kebijakan yang sifatnya jangka pendek terus dikeluarkan. Diantaranya penertiban kendaraan yang parkir di badan jalan, optimalisasi petugas lalu lintas. Untuk solusi jangka panjang perlu pembangunan dan pengoptimalan infrastruktur. Aspek nonfisik pun perlu dipersiapkan demi terciptanya transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat Kota Bandung.

Perlu peran serta pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kemacetan di Kota Bandung ini. Jika bukan kita yang memulai siapa lagi? Ayo pulihkan Kota Bandung

 

Daftar Pustaka:

Bandung. BPS. 2004.
Bandung Dalam Angka 2003
.Bandung.

Bandung. BPS. 2006.
Bandung Dalam Angka 200
5.Bandung.

Bandung. BPS. 2008.
Bandung Dalam Angka 200
7.Bandung.

Lubis, Nina H.2008.
Metode Sejarah
. Bandung: Satya Historika.

Sumber Internet:






Sumber Gambar:
 

0 comments:

Best Blogspot Templates 2013