phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

SEKELUMIT TOKOH EKONOMI INDONESIA

SEKELUMIT TOKOH EKONOMI INDONESIA
oleh: Bimo Adriawan


Pendahuluan
Pembangunan
Ekonomi adalah faktor yang turut serta menentukan posisi kesejahteraan suatu bangsa. Kestabilan ekonomi dan pertumbuhannya sangat berperan dalam kemajuan serta pembangunan yang sedang gencar dilakukan oleh bangsa Indonesia. Setelah kemerdekaan sampai sekarang perekonomian belum menunjukkan kestabilan, mungkin pada saat orde baru ekonomi bangsa Indonesia berada dalam kondisi yang cukup stabil meskipun dibaliknya banyak catatan hitam. 

Kondisi perekonomian kembali goyah pasca reformasi setidaknya hal tersebut dapat diamati dari jumlah pengangguran terdidik yang merangkak naik, harga barang yang melambung tinggi, dan nilai tukar rupiah yang lemah. Banyak tokoh Indonesia yang berjuang untuk memperkuat perekonomian bangsa Indonesia. 

Perjuangan para tokoh Indonesia untuk memperbaiki ekonomi Indonesia patut kita hargai meskipun kerap kali para pejuang ekonomi terlilit dengan kasus-kasus berkaitan juga dengan ekonomi yang membuat namanya tercemar.Berikut adalah dua tokoh dari banyak tokoh yang berjuang demi kemajuan ekonomi bangsa Indonesia :

Ibnu Sutowo (1914-2001) 

Ibnu Sutowo
Ibnu Sutowo lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 September 1914 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 21 Januari 2001. Ibnu Sutowo merupakan seorang dokter yang bertugas di Palembang dan Martapura pada tahun 1940. 

Pasca kemerdekaan ia sempat bertugas sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara se-Sumatera Selatan (1946-1947). Masuknya Ibnu Sutowo ke militer sangat dimungkinkan karena pasca kemerdekaan Indonesia, bangsa ini membutuhkan banyak tenaga untuk memperkuat pertahanan karena melihat kemungkinan Belanda akan kembali lagi untuk menguasai Indonesia. Posisi militer tertinggi yang dijabat oleh Ibnu Sutowo adalah sebagai Pangdam Sriwijaya pada tahun 1955 dengan pangkat kolonel.

Pada tahun 1957, Ibnu Sutowo ditempatkan oleh atasannya Nasution sebagai pimpinan perusahaan minyak baru yang diberi nama Permina (perusahaan Minyak Nasional). Masuknya tentara ke dalam Industri minyak ini disebabkan oleh pengelolaan yang buruk karena pengambilalihan perusahaan itu tidak terlihat manfaatnya terhadap perekonomian dan juga tentara. 

Karena alasan itu lah Nasution menempatkan Ibnu Sutowo yang memiliki kemampuan administrasi yang baik sebagai pimpinan Permina. Pada tahun 1968 pemerintah memfokuskan kebijakan ekonominya pada minyak, meskipun industri lain yang memerlukan modal intensif dan teknologi tinggi serta menghasilkan mineral dan karet juga berkembang pesat.

Pertamina
Pengeboran lepas pantai dimulai pada tahun 1966 dan berkembang pesat pada tahun 1968. Pada Agustus 1968, peran bisnis tentara semakin kokoh ketika perusahaan minyak Pertamin (1961) dan Permina digabung menjadi Pertamina (Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara).

Ibnu Sutowo segera memperoleh reputasi internasional karena manajemennya yang agresif dan penuh visi. Pertamina hanya melakukan sedikit pengeboran sendiri, selebihnya perusahaan ini (bukan pemerintah) mengadakan perjanjian pembagian produksi dengan perusahaan asing. 

Pada era Ibnu Sutowo, produksi minyak tumbuh sekitar 15% pada tahun 1968-1969 dan hampir 20% pada tahun 1970. Kondisi tersebut didukung oleh para teknokrat yang mampu mengendalikan inflasi. Inflasi dapat berkurang sampai sekitar 85% pada tahun 1968, tetapi banyak rakyat belum merasakan kesejahteraan.

Perkembangan selanjutnya, rencana ekonomi pemerintah bergantung pada pengendalian pendapatan minyak, yang berarti harus mampu mengendalikan Pertamina. Di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo, Pertamina telah tumbuh menjadi salah satu korporasi terbesar di dunia. Pertamina menghasilkan sendiri 28.2% minyak nasional pada akhir tahun 1973 dan mengadakan perjanjian pembagian produksi dengan Caltex (menghasilkan 67.8% minyak) dan Stanvac (3.6%). 

Bina Graha
Pertamina juga menguasai 7 kilang minyak Indonesia, terminal-terminal minyak 116 kapal tangki, 102 kapal lainnya, dan sebuah masakapai penerbangan. Pertamina juga menanamkan modalnya di perusahaan semen, pupuk, gas alam cair, baja, rumah sakit, perumahan, pertanian padi, dan telekomunikasi, serta membangun kantor eksekutif kepresidenan (Bina Graha) di Jakarta. 

Hampir semua kebijakan Pertamina berada di luar kendali pemerintah dan untuk mendanai kebijakannya dilakukan hutang besar-besaran yang akhirnya membuat pemerintah memperketat syarat-syarat peminjaman dana oleh Ibnu Sutowo dari luar negeri. Pada bulan Februari 1975, Pertamina tidak mampu lagi membayar pinjamannya dari beberapa bank Amerika dan Kanada. Akhirnya pada tahun 1976, Ibnu Sutowo diberhentikan sebagai dirut Pertamina.

Kesimpulan
Ibnu Sutowo adalah seorang militer yang ditugaskan untuk menjabat sebagai pimpinan Permina (yang pada tahun 1968 berubah menjadi Pertamina selelah bergabung dengan Pertamin). Di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo, Pertamina menjadi sebuah perusahaan Negara yang besar dan turut mendongkrak perekonomian di Indonesia. Artinya penunjukan Ibnu Sutowo oleh Nasution membawa dampak yang baik. Kita seharusnya menghargai jasa Ibnu Sutowo dalam bidang ekonomi, di bawah kepemimpinannya Pertamina pada akhir 1960-an dan awal 1970-an menjadi perusahaan yang berkontribusi besar dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia.

Sumitro Djojohadikusumo (1917-2001)
Sumitro

Profesor Sumitro Djojohadikusumo adalah ahli ekonomi Indonesia yang mengeluarkan kebjiakan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng ketika ia menjabat sebagai menteri perdagangan (1950-1953). Pada masa ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan (1950-1953), Sumitro berusaha mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah dengan menumbuhkan industrialisasi. 

Sasaran rencana itu dipusatkan pada pembangunan industri dasar, seperti pabrik semen, percetakan, pabrik karung, dan pemintalan. Kebijakan itu diikuti dengan perbaikan prasarana, liberalisasi pertanian, dan penanaman modal asing. Sumitro berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus segera ditumbuhkan menjadi kelas pengusaha. 

Para pengusaha Indonesia yang pada umumnya bermodal lemah, diberi kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam membangun ekonomi nasional. Mereka harus dibimbing dan diberi bantuan kredit karena pemerintah menyadari bahwa pada umumnya mereka tidak mempunyai cukup modal. Dengan usaha secara bertahap. Pengusaha akan berkembang maju. Tujuannya adalah mengubah struktur ekonomi colonial ke struktur ekonomi nasional. Program Sumitro ini dikenal dengan nama Gerakan Benteng.

Selama tiga tahun (1950-1953) kurang lebih 700 perusahaan bangsa Indonesia mendapat program benteng. Namun, usaha tersebut tidak mencapai sasaran, karena pengusaha-pengusaha Indonesia ternyata lamban untuk menjadi dewasa. Bahkan ada yang menyalahgunakan bantuan tersebut. 

Bangkrut
Kegagalan program itu disebabkan pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha nonpribumi, dalam rangka pelaksanaan ekonomi liberal. Faktor lain berasal dari mentalitas pengusaha kita yang cenderung pada pola konsumtif, sehingga berkeinginan cepat mendapat keuntungan yang besar dan menikmati hidup mewah.

Kesimpulan
 
PRRI Permesta
Sumitro Djojohadikusumo adalah seorang ahli ekonomi Indonesia yang telah mencoba untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian bangsa Indonesia. Pemberian modal usaha untuk rakyat masih dilakukan sampai sekarang dengan perbaikkan di sana sini. Kita patut menghargai usaha dan program yang ia laksanakan selama menjadi pejabat di negeri ini. Bapak dari Prabowo Subianto ini juga sempat bergabung dalam PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) bersama Natsir, Burhanuddin Harahap dkk. Walaupun akhirnya dapat ditumpas oleh TNI. Hal tersebut tidak membuat nama Sumitro Djojohadikusumo menjadi tercemar. Keahliannya dalam bidang ekonomi membuat Presiden Soeharto menunjuknya menjadi Menteri Perdagangan pada tahun 1968. Sumitro adalah ekonom Indonesia yang patut kita banggakan.

Sumber Gambar: 
Pembangunan

Ibnu Sutowo

Pertamina

Bina Graha

Sumitro

Bangkrut

PRRI Permesta

0 comments:

Best Blogspot Templates 2013