phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

SEKILAS MENGENAI KERATON SUROSOWAN

SEKILAS MENGENAI KERATON SUROSOWAN
oleh : Bimo Adriawan


Selayang Pandang Sejarah Keraton Surosowan

Benteng Surosowan
Keraton Surosowan didirikan pada masa Sultan Maulana Hasanudin pada tahun 1522-1526. Sultan Ageng Tirtayasa mempercantik istana Surosowan dengan menyewa tenaga ahli dari Portugal dan Belanda, di antaranya Hendrik Lucasz Cardeel. Benteng istana diperkuat dan dipojok-pojoknya dibangun bastion, bangunan setengah lingkaran dengan lubang-lubang tembak prajurit mengintai dan menembak musuh.


Belum lagi sistem parit dan saluran air bawah tanah ke dalam kompleks istana. Menurut Paulus Van Solt, pada 1605 dan 1607 benteng istana sempat mengalami kebakaran. Namun nasib istana Surosowan luluh lantak setelah Daendels memimpin pasukan Kompeni untuk menghancurkannya pada 21 November 1808.

Penerapan Metode Arkeologi Terhadap Situs Keraton Surosowan

Metode Arkeologi terdiri dari tiga tahap, yaitu :

1. Observasi

Keraton Surosowan
Observasi adalah tahap pertama dalam metode Arkeologi. Tahap ini adalah tahap untuk mengumpulkan data arkeologi yang terdiri dari data kepustakaan dan data lapangan. Data kepustakaan dapat diperoleh dari berbagai seumber tertulis seperti buku, gambar, foto, peta. Data lapangan diperoleh dari penjajagan atau pengamatan tinggalan arkeologi di situs tersebut dan survei berupa pengamatan yang disertai analisis mendalam. Pengumpulan data juga bisa dilakukan dengan eskavasi yaitu penggalian tanah yang dilakukan secara sistematik untuk menemukan temuan arkeologi.

Tahap pertama ini bisa kita terapkan pada situs Keraton Surosowan sebagai berikut :

Langkah pertama sebelum kita menuju ke lokasi situs, kita harus melakukan studi kepustakaan terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan supaya kita mengenali  dan memahami Keraton Surosowan berdasarkan temuan orang lain sehingga kita mengetahui harus berbuat apa terhadap Keraton Surosowan.

Langkah kedua, jika data kepustakaan telah terkumpul dan kita mendapatkan gambaran mengenai Keraton Surosowan. Langkah selanjutnya adalah melakukan penjajagan yang juga bisa disertai survei. Kita mengamati Keraton Surosowan secara langsung dan mulai menyusun langkah berikutnya. Survei bisa dilakukan dengan cara mewawancara penduduk sekitar yang mau dan mampu menjelaskan mengenai Keraton Surosowan sebagai langkah awal penelitian arkeologi. Terutama untuk menentukan tempat melakukan eskavasi.

Langkah terakhir dalam pengumpulan data adalah melakukan eskavasi. Setelah kita mengumpulkan data kepustakaan, data di lapangan yang terlihat, kita juga perlu melakukan penggalian situs untuk mencari tinggalan arkeologi yang masih berada di dalam tanah di situs Keraton Surosowan. Eskavasi sangat menunjang penelitian terhadap situs ini karena situs ini telah hancur dan kemungkinan besar terdapat peninggalan arkeologi yang tertimbun oleh tanah.

2. Deskripsi

Setelah data terkumpul, kita harus menguraikan data-data tersebut sehingga mendapat gambaran dan penjelasan mengenai data-data yang telah terkumpul..

Penerapannya dalam situs Keraton Surosowan adalah :

1. Analisis Arsitektur

Analisis aristektur dapat dibagi lagi menjadi 4 bagian, yaitu :

a. Analisis Morfologi

Bagian yang diamati dalam analisis ini adalah bagian kaki, tubuh, dan atap. Pada situs Keraton Surosowan dengan kondisi fisik bangunan yang sudah hancur, yang bisa dianalisis morfologi bersifat terbatas pada bagian dinding dan pondasinya saja. Bagian bawah Keraton Surosowan berundak-undak, bagian dindingnya dibuat berlapis-lapis menggunakan bata dan diperkirakan atapnya semakin atas semakin kecil dan meruncing.

b. Analisis Teknologi

Bagian pondasi dan dinding Keraton Surosowan menggunakan bata. Khusus untuk lantai ditemukan dua bahan yaitu bata dan ubin.

c. Analisis Gaya

Gaya Keraton Surosowan berbeda dengan gaya keratin-keraton lainnya. Di bentengnya terdapat bastion (bangunan setengah lingkaran tempat mengintai dan menembak musuh) yang berasal dari Eropa. Namun, secara umum gaya arsitektur Keraton Surosowan ini masih bergaya Jawa.

d. Analisis Kontekstual

Keraton Surosowan memiliki dua halaman, yaitu :

Sisa Keraton Surowosan


Dalam benteng
  1. Istana sultan
  2. Kolam Roro Denok
  3. Datulaya
  4. Kolam Pancuran Mas
  5. Gerbang utara
  6. Gerbang Timur
Luar benteng
  1. Alun-alun
  2. Watu gilang
  3. Masjid Agung Banten
  4. Bangunan Tiyamah
  5. Srimanganti
  6. Meriam Ki Amuk
  7. Baledana
3. Eksplanasi

Tahap terakhir adalah eksplanasi atau penafsiran terhadap data dan analisis yang telah kita lakukan. Eksplanasi dari data dan analisis untuk Keraton Surosowan adalah :

Sisa Keraton Surosowan 2
Berdasarkan data dan analisis yang telah dilakukan, dapat kita temukan bahwa Keraton Surosowan berbeda dengan keratin-keraton lainnya. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan Keraton Surosowan hanya memiliki dua halaman, yaitu dalam benteng dan luar benteng. Gaya keraton ini campuran antara gaya lokal dan eropa. Hal tersebut dipengaruhi oleh renovasi dan pembangunan bertahap karena ditemukan beberapa struktur yang tumpang tindih.



Daftar Sumber :

Indonesia, Depdiknas.Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.1999.

Metode Penelitian Arkeologi. Indonesia: Depdiknas.

http://journal.ui.ac.id/?hal=download&q=256.

http://www.arsitekturindis.com/?p=341

http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surosowan_Banten.htm

Sumber Gambar :

Benteng Surosowan

Keraton Surosowan

Sisa Keraton Surosowan


Sisa Keraton Surosowan 2
http://raddien.blogspot.com/

0 comments:

Best Blogspot Templates 2013