phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

AKAR PERKEMBANGAN AGAMA DAN FILSAFAT DI INDIA

Akar Perkembangan Agama dan Filsafat di India

Reruntuhan Mohenjo Daro
Pendahuluan

India merupakan wilayah yang sangat subur, kesuburan wilayah ini membuat India menjadi tempat lahirnya peradaban tua Sungai Indus seperti Kota Mohenjo Daro dan Harappa (ca. 4000-2500 SM). Lahir dan berkembangnya peradaban tersebut tidak lepas dari peran Sungai Gangga dan Indus yang melalui wilayah tersebut. 

Kondisi geografis ini yang menunjang berkembangnya kedua peradaban tadi. Bahkan yang lebih menarik lagi, peradaban kuno Sungai Indus mampu mengolah potensi alam berupa sungai sedemikian rupa sehingga tidak hanya sebagai penyubur tanah tetapi juga sebagai penyuplai air dan alat penghubung antara pegunungan dan hutan. Pada periode ini pemujaan terhadap dewa/dewi sudah mulai berkembang.

Kedatangan Bangsa Arya

Ras Arya
Bangsa Arya (dari bahasa Sanskerta Arya, "mulia") mulai datang ke Indus pada ca. 1500 SM. Kedatangan Bangsa Arya ini membawa dampak yang besar bagi kehidupan masyarakat di wilayah Indus dan India secara keseluruhan. Awalnya mereka menetap di daerah Indus, Yamuna dan dataran Gangga. 

Bangsa Arya berbicara menggunakan bahasa dari rumpun Indo-Eropa yaitu Sanskerta (berbeda dengan masyarakat sekitar yang berbicara dengan bahasa Urdu) dan yang paling mendasar adalah mereka menyembah dewa-dewa yang mirip dengan Yunani dan wilayah Eropa Utara. Berawal dari sinilah kemudian berkembang apa yang disebut Weda dan Upanisad.

Weda dan Upanisad

Weda sebagaimana kita ketahui adalah kitab suci agama Hindu. Pada awalnya Weda disampaikan secara lisan. Baru setelah tulisan dikenal, Weda kemudian ditulis. Maharesi Byasa, menyusun kembali Weda dan membagi Weda menjadi empat bagian utama, yaitu: Regweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda. 

Regweda
Dari jumlah tersebut, Regweda diyakini paling awal. Terdiri dari teks-teks lagu pujian, mantra-mantra, dan ritual di kalangan bangsa Arya. Berangkat dari masuknya bangsa Arya dan Weda filsafat dan agama mulai berkembang dengan pesat di wilayah India.

Sebagian besar puisi-puisi Weda cenderung mengisahkan tentang kegiatan dari berbagai dewa. Namun beberapa himne Weda tema filsafat yang menjadi penting dalam periode berikutnya, seperti henoteisme yang merupakan kunci untuk banyak teologi Hindu. Henoteisme adalah gagasan bahwa satu Tuhan mengambil banyak bentuk, dan meskipun beberapa orang dapat menyembah dewa-dewa dan dewi yang berbeda, tetapi sebenarnya mereka memuja satu Tuhan.

Teks Upanishad
Selain Weda dikenal juga Upanisad. Upanisad adalah teks yang mengandung filsafat yang merupakan elaborasi Weda. Pada masa ini muncul keraguan mengenai Weda terbukti dari doktrin-doktrin yang terdapat di dalam Upanisad. 

Filsafat eksistensialisme mulai berkembang, mereka bertanya mengenai asal, tujuan, dan akhir kehidupan mereka. Perhatian filosofis khusus dari Upanishad adalah dengan sifat realitas. Ada sebuah perkembangan menuju konsep yang tertinggi, dan pengetahuan diarahkan kepada hal itu. 

Hal yang fundamental bagi semua pemikiran Hindu adalah persamaan dalam Upanishad, dari atman (diri) dengan Brahman (realitas tertinggi). Sifat moralitas dan kehidupan kekal dibahas dalam Upanishad, tema-tema seperti sebagai transmigrasi jiwa dan kausalitas dalam penciptaan. 

Tema lain meliputi sifat dan tujuan dari keberadaan, berbagai cara meditasi dan ibadah, eskatologi, keselamatan. Pada masa epos (ca 1000-500 SM) filsafat ini semakin dipertegas dengan munculnya kelas pendeta. Pada periode ini juga lahir dua karya sastra heroik bangsa Arya yaitu, Mahabarata dan Ramayana.

Hindu dan Buddha

Upanishad terus mengalami perkembangan. Perkembangan Upanishad tidak terlepas dari peran kelas pendeta yang muncul pada periode epos. Peran dominan para pendeta yang disebut Brahmana ini membuat adat baru yang berda di luar Upanishad sendiri. Adat tersebut dikenal dengan nama Hindu. 

Hindu
Hindu sendiri sebenarnya masih berpatokan kepada Upanishad akan tetapi mengalami penambahan seperti teori kasta dan reinkarnasi. Hindu juga mengambil pandangan politeistik namun belum jelas apakah terdapat perbedaan antara politeistik Hindu dengan “politeistik” Upanishad dan Weda pada periode sebelumnya. 

Pandangan tersebut menerangkan Upanishad dan juga Weda memahami bahwa tuhan mengambil beberapa bentuk sehingga orang-orang yang menyembah dewa-dewa atau dewi yang berbeda hakikatnya menyembah tuhan yang satu. Pada adat Hindu kasta juga dijadikan suatu hal yang religius.

Perkembangan selanjutnya adalah pada 567 SM. Pada tahun itu lahirlah agama Buddha yang bisa dikatakan sebagai anti-thesis dari agama Hindu. Jika Hindu merubah Upanishad dengan menambahkan beberapa teori baru, Buddha sangat kental akan filosofi dari Upanishad bahkan bisa dikatakan Buddha lebih cenderung sebuah filosofi daripada agama. 

Buddha
Buddha memiliki persamaan dengan Hindu yaitu sama-sama mempercayai adanya reinkarnasi. Perbedaan terlihat jelas pada pengadopsian teori kasta, jika Hindu mengadopsinya dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari agamanya, Buddha menentang keras adanya kasta karena kasta bukan merupakan ajaran dari Upanishad. Buddha pun lebih terbuka, siapa saja boleh memeluknya.

Kesimpulan

India merupakan wilayah yang subur sehingga peradaban kuno berkembang di wilayah ini. Kedatangan bangsa Arya membawa warna baru bagi kehidupan paska peradaban Sungai Indus. Pengenalan bahasa Sanskerta dan pengenalan filsafat membawa kemajuan dan kelahiran agama Hindu dan Buddha. 

Filsafat tersebut berbentuk himne-himne yang berisi pujian-pujian dan disampaikan secara lisan. Setelah dikenal tulisan, filsafat tersebut mulai ditulis dan dinamakan Weda yang terdiri dari empat bagian. Weda kemudian mengalami perkembangan yang pesat yang kemudian menghasilkan filsafat yang lebih kompleks yang dituangkan dalam Upanishad.

Kedua kitab ini terus mengalami perkembangan dan akhirnya muncul kelas pendeta yang membuat adat berdasar pada Upanishad dengan penambahan-penambahan, adat tersebut dinamakan Hindu. Pada perkembangan selanjutnya munculah Buddha yang merupakan anti-thesis dari Hindu, Buddha lebih terbuka dan berusaha memurnikan filsafat Upanishad. Kompleksitas tersebut sangat menarik untuk dikaji dan apakah “tren” terjadi juga pada pusat peradaban kuno lainnya (Mesopotamia, Mesir, atau Sungai Kuning)? Mari kita kaji bersama.

DAFTAR SUMBER :

Presentasi Pak Fadly, Dosen Ilmu Sejarah Unpad

Oldenburg, Philip. "India." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

Shaffer, Jim G. "Mohenjo-Daro." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

"Upanishads." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.

"Aryan." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2009.

"India." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2009.

"Upanishad." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2009.

"Veda." Encyclopædia Britannica. Ultimate Reference Suite.  Chicago: Encyclopædia Britannica, 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Upanisad

http://id.wikipedia.org/wiki/Weda

Sumber Gambar:
Reruntuhan Mohenjo Daro
http://www.nationalgeographic.com/

Ras Arya
http://www.newsnet14.com/ 

Regweda 
http://religiku.wordpress.com/

Teks Upanishad
http://aaaummm.wordpress.com/ 

Hindu
http://www.hcina.org/ 

Buddha 
http://lostpedia.wikia.com/
Best Blogspot Templates 2013