phone: +420 776 223 443
e-mail: support@londoncreative.co.uk

KONSEP – KONSEP KEBUDAYAAN

KONSEP – KONSEP KEBUDAYAAN

A. Sejarah Konsep Kebudayaan sampai Abad ke-19

Konsep kebudayaan pertama kali dibuat oleh Herodotus (400 SM). Ia menuliskan mengenai kebudayaan dan perbedaan ras daerah Persia, Timur Tengah, Asia dan Afrika. Konsep ini terus berkembang dan pada akhir masa kegelapan di Eropa banyak bangsa Eropa yang menjelajahi wilayah di luar Eropa untuk mencari sumber daya alam dan juga mengadakan kontak dengan budaya baru.


Pada zaman pencerahan (abad ke-18), banyak filsuf dan ilmuwan dari Eropa yang mempercayai bahwa kebudayaan maju beriringan dengan kemajuan di seluruh bidang dalam kehidupan manusia. Pada abad ke-19 di Eropa banyak penemuan ilmiah mengenai kebudayaan.

1. Sir John Lubbock membagi tingkatan kebudayaan berdasarkan kemajuan teknologi,yaitu :
a. Paleolitik (batu tua)
b. Neolotik (batu muda)
c. Zaman perunggu
d. Zaman besi
Lubbock juga menyatakan bahwa bentuk lain kemajuan kebudayaan seperti moralitas dan spiritualitas berkembang beriringan dengan tingkatan kemajuan teknologi.

2. Herbert Spencer menjelaskan bahwa evolusi manusia didasarkan kepada perjuangan untuk bertahan hidup, ras yang lemah digantikan oleh ras yang kuat. Namun, Ia tidak sependapat dengan Darwin yang membuat bangsa Eropa lebih tinggi dari bangsa lain di dunia yang berakhir dengan kolonialisme.

3. Lewis Henry Morgan memperkenalkan teori evolusi kebudayaan yang lain, Ia berusaha menampilkan berbahai aspek budaya seperti struktur keluarga, bentuk perkawinan, kategori kekerabatan, kepemilikan properti, bentuk pemerintahan, teknologi, dan sistem produksi makanan. Morgan membagi tahap kebudayaan yang disebutnya periode evolusi etnis dan membaginya menjadi: kebiadaban (Savagery) (dengan tiga tahapan: Bawah, Tengah, dan Atas), Barbar (Barbarism) (juga dengan tiga tahap), dan peradaban (Civilization). Morgan tidak percaya pada teori yang mempromosikan rasisme, sukuisme, atau eksploitasi. Namun, seperti kebanyakan lainnya Morgan juga percaya bahwa ras, kebangsaan, bahasa, dan budaya Eropa lebih unggul daripada bangsa lainnya.

B. Perkembangan Konsep Kebudayaan pada Abad ke 20

a. Fungsionalisme
Sosiolog Perancis Emile Durkheim mengembangkan teori budaya yang sangat mempengaruhi antropologi. Durkheim mengusulkan bahwa agama berfungsi untuk memperkuat solidaritas sosial. Ketertarikan dalam hubungan antara fungsi-budaya masyarakat dikenal sebagai fungsionalisme yang kemudian menjadi tema utama di Eropa, dan Inggris khususnya, antropologi. Fungsionalis budaya melihat budaya sebagai kumpulan bagian terpadu yang bekerja sama dengan masyarakat untuk tetap berfungsi. Fungsionalis Inggris, seperti Bronisław Malinowski dan AR Radcliffe-Brown, kemudian dikenal sebagai antropolog sosial karena mereka tertarik bekerja diantara masyarakat. Mereka menulis Etnografis secara rinci yang menjelaskan bahwa setiap aspek budaya dan struktur sosial.

b. Materialisme
Awal 1930-an di Amerika beberapa antropolog mengembangkan ketertarikan baru pada materi, atau ekonomi, dan ekologi dasar budaya. Antropologi ini menekankan pentingnya menemukan bagaimana alam lingkungan, teknologi, dan bagaimana cara orang memproduksi dan mendistribusikan kebutuhan mereka, seperti makanan, pengaruh dari budaya lain. Mereka yang mengusulkan busaya materi, terutama yang berkaitan dengan aspek yang membuat hidup dan menentukan bentuk budaya secara keseluruhan.

c. Antropologi Simbolis
Berawal pada akhir tahun 1960, kelompok antropolog lain mulai memfokuskan studi mereka pada simbol penting dalam budaya tertentu. Bentuk antropologi ini kemudian dikenal sebagai Antropologi simbolis atau interpretif. Antropolog simbolis, seperti antropolog Inggris Victor Turner dan antropolog Amerika Clifford Geertz, telah berusaha untuk menjelaskan arti khusus untuk orang-orang menetapkan benda, perilaku, dan emosi. Alih-alih mencari logika yang universal untuk semua budaya, antropolog simbolis telah mencoba untuk menemukan logika internal yang spesifik yang digunakan orang-orang yang untuk menafsirkan budayanya sendiri.

d. Postmodernisme
Pada tahun 1980-an dan 1990-an beralih ke beberapa antropolog yang lebih radikal interpretif pada perspektif budaya, umumnya dikenal sebagai postmodernisme. Postmodernisme mempertanyaan apakah tujuan pemahaman budaya lain mungkin. Ini dikembangkan sebagai reaksi modernisme, yang merupakan pendekatan ilmiah dan rasional untuk memahami dunia ditemukan di sebagian besar etnografi.

Antropolog postmodern menunjukkan bahwa semua orang membangun budaya melalui sebuah proses yang sama dengan menulis, membaca, dan interpretasi dari teks. Dari pandangan ini, orang terus berdebat satu sama lain tentang makna seluruh aspek budaya, seperti kata-kata, ritual, dan konsep. Orang di Amerika Serikat, misalnya, sudah lama berdebat atas masalah-masalah budaya seperti apa yang itu keluarga, apa peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat, dan apa fungsi yang harus dilakukan pemerintah federal. Antropolog sekarang banyak belajar dan menulis tentang jenis pertanyaan, bahkan dalam masyarakat mereka sendiri.

Daftar Sumber :
Bodley, John H. "Culture." Microsoft® Encarta® 2009 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.
Microsoft ® Encarta ® 2009. © 1993-2008 Microsoft Corporation. All rights reserved.

0 comments:

Best Blogspot Templates 2013